Harga Perolehan Aktiva Tetap atau Aset Tetap Lengkap

Posted on
harga perolehan aktiva dan aset tetap

Harga perolehan aktiva tetap | Akuntansilengkap.com – Materi aktiva lengkap pada artikel kali ini adalah pembahasan tentang perolehan aktiva tetap dilengkapi dengan contoh soal aktiva tetap.

Terdapat berebapa cara dalam memperoleh aktiva tetap, beberaoa faktor yang mempengaruhi harga perolehan aktiva tetap diantaranya:

  1. Perolehan aktiva tetap Pembelian tunai,
  2. Perolehan aktiva tetap Pembelian kredit,
  3. Perolehan aktiva tetap dengan wesel bunga,
  4. Perolehan aktiva tetap Pembelian gabungan (satu paket)
  5. Perolehan aktiva tetap dengan penerbiatan saham
  6. Perolehan aktiva tetap Membangun sendiri
  7. Perolehan aktiva tetap adanya sumbangan/hadiah dari pihak lain
  8. Perolehan aktiva tetap dengan Pertukaran

Penentuan Perolehan Aktiva Tetap

Pengertian Harga perolehan adalah semua pengeluaran yang dikorbankan untuk mendapatkan aktiva tetap dan pengeluaran lain agar aktiva siap untuk digunakan. (Haryono Jusup, 2005; 155)

Harga perolehan adalah harga beli ditambah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menyiapkan hingga aktiva tetap tersebut siap digunakan.  (Wit & Erhans, 2000; 82).

Prinsip akuntansinya adalah aktiva tetap harus dicatat sesuai dengan harga perolehannya.
Contoh Kasus
Sebuah komputer merek acer dibeli dengan harga Rp. 7.500.000 dan mendapat potongan tunai sebesar 10%. Biaya tambahan untuk install komputer dan pemasangan sehingga komputer siap digunakan sebesar Rp. 250.000. maka harga perolehan komputer tersebut dapat dihitung sebagai berikut:
Harga beli 7.500.000
Potongan tunai 10 % (750.000 )
6.750.000
Biaya install dan pasang 250.000
Harga Perolehan 7.000.000

Jurnal transaksi tersebut adalah:

Komputer 7.000.000
     Kas 7.000.000

Baca Juga: 

  1. Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap Beserta Contoh Soal
  2. Pengertian Aset Tetap Atau Aktiva Tetap Beserta Contohnya
  3. Penghentian Aktiva Tetap Beserta Contoh Soal Dan Jurnalnya

1. Perolehan Aktiva Tetap Pembelian Tunai

Dalam pembelian secara tunai, harga perolehan adalah harga beli bersih setelah dikurangi potongan tunai ditambah pengeluaran-pengelauaran.

Contoh Kasus
Dibeli mesin pabrik seharga Rp. 55.000.000, biaya tambahan yang terkait meliputi, PPN sebesar Rp. 5.500.000, Premi asuransi sebesar Rp. 550.000 dan biaya pemasangan mesin sebesar Rp. 1.450.000. maka harga perolehannya dapat dihitung :
Harga beli 55.000.000
PPN 5.500.000
Premi asuransi 550.000
Biaya pemasangan 1.450.000
Harga perolehan 62.500.000

Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah

Mesin pabrik 62.500.000
Kas 62.500.000

2. Perolehan Aktiva Tetap Pembelian Kredit

Pembelian secara kredit jangka panjang umumnya melibatkan bunga kredit, bunga dapat ditetapkan secara eksplisit dan implisit.

Bunga eksplisit adalah bunga yang ditetapkan secara jelas atau terus terang dalam pembelian kredit.

Bunga implisit adalah bunga yang belum ditetapkan atau tidak ditetapkan secara terus terang sehingga harus mencari dulu berapa besar bunganya.

Baik menggunakan bunga secara eksplisit maupun implisit, bunga tidak boleh dimasukkan ke dalam menghitung harga perolehan, mengapa ? karena bunga bukan merupakan pengorbanan untuk medapatkan aktiva tetap, tetapi pengorbanan untuk menggunakan dana pihak lain.

3. Perolehan Aset Tetap Menggunakan Wesel Bunga

Pembelian aktiva tetap dengan jumlah rupiah yang besar biasanya akan dibayar perusahaan dengan menggunakan wesel berbunga. Pembeli biasanya diwajibkan membayar uang muka dan sisanya dibayar dengan wesel berbunga, dan pembayaran bunga dibayar pada saat jatuh tempo wesel tersebut.

Harga perolehan aktiva dapat dihitung dengan jumlah uang muka ditambah nilai nominal wesel. Biaya bunga merupakan biaya pendanaan (financing cost) yang dicatat dengan mendebet rekening biaya bunga.

Contoh Kasus
PT Asio membeli peralatan pabrik seharga Rp. 120.000.000 secara tunai. Uang muka yang diberikan sebesar Rp. 20.000.000 dan sisanya dibayar dengan wesel berbunga jangka waktu setahun bunga 10%. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:
Peralatan pabrik 120.000.000
       Kas 20.000.000
      Utang wesel 100.000.000
(untuk mencatat uang muka dan penarikan utang wesel)

Dan pada saat jatuh tempo wesel, dibayarkan nilai nominal setelah ditambah dengan bunga sebesar 10.000.000 ( 100.000.000 x 10%) dan dicatat dalam jurnalnya:

Utang wesel 100.000.000
Biaya bunga 10.000.000
Kas 110.000.000

4. Pembelian Dalam Satu Paket/Gabungan/ Lump-Sum

Pembelian dalam satu paket (gabungan) sering disebut juga sebagai lump-sum. Harga paket gabungan didasarkan pada harga perolehan masing-masing aktiva tetap yang ditentukan dengan harga pasar.

Contoh Kasus
Pada tanggal 1 Januari, PT Lisa membeli tanah, gedung dan peralatan dengan harga total sebesar Rp. 100.000.000. harga pasar masing-masing untuk tanah sebesar Rp. 45.000.000, untuk gedung seharga Rp. 75.000.000 dan untuk peralatan seharga Rp. 30.000.000.:
Golongan Harga Pasar % dari HP & Perhitungan Alokasi
Tanah 45.000.000 30 % x 100.000.000 30.000.000
Gedung 75.000.000 50 % x 100.000.000 50.000.000
Peralatan 30.000.000 20 % x 100.000.000 20.000.000
  150.000.000 100 % 100.000.000

Jurnal untuk mencatat pembelian aktiva tetap secara gabungan sebagai berikut:

Tanah gedung dan perlatan 100.000.000
     Kas 100.000.000

Jurnal untuk mencatat alokasi harga perolehan dari masing-masing aktiva adalah

Tanah 30.000.000
Gedung 50.000.000
Peralatan 20.000.000
     Kas 100.000.000

5. Perolehan Aktiva Tetap Membangun Sendiri

Perusahaan terkadang membangun sendiri aktiva tetap/asset tetapnya, maka terdapat dua situasi dalam penentuan harga pokok asset diantaranya?

  1. Asset tetap yang dibangun sendiri dengan dana yang berasal dari dalam perusahaan.

Asset yang dibangun sendiri adalah bangunan yang timbul karena tidak harga pembelian ataupun harga kontrak pembangunan. Maka perusahaan harus mengalikasikan seluruh biaya yang dikeluarkan meliputi biaya (bahan, tenaga kerja dan oberhead) yang berkaitan dengan pembangunan tersebut. Biaya overhead biasanya seperti listrik, asuransi, peraltan pabrik dan pengawas pabrik. Cara yang boleh dipilih dalam mengalokasikan biaya overhead pabrik diantaranya:

  1. Tidak mengalikasikan overhead pada biaya pembangunan
  2. Mengalokasikan atas dasar produksi yang hilang
  3. Mengalokasikan sebagian overhead pada biaya pembangunan
  4. Asset tetap yang dibangun dengan dana dari pinjaman.

Untuk situasi ini, ada hal yang perlu diperhatikan yaitu perlakuan biaya pinjaman selama pembangunan. Perhitungan biaya pinjaman saat pembangunan dalam mengakuisisi asset tetap boleh menggunakan beberapa cara alternative seperti:

  1. Tidak mengkapitalisasi biaya pinjaman selama pembangunan.
  2. Membebankan pembangunan dengan semua biaya dana yang digunakan , baik yang bisa diidentifikasi maupun yang tidak.
  3. Mengkapitalisasi hanya biaya pinjaman sebenarnya terjadi hanya selama pembangunan.

6. Perolehan Aktiva Tetap Dengan Menerbitkan Saham

Asset yang diperoleh dengan menerbitkan saham dapat dinai atas dasar nilai tetapan saham tersebut. Nilai pasar dari saham yang diterbitkan adalah petunjuk yang layak atas harga pokok dari harta yang diakuisisi, mengapa ? karena saham itu merupakan ukuran yang baik dari harga ekuivalen kas masa berjalan.

Contoh Kasus
Pada tanggal 1 mei,  PT Abadi mengeluarkan saham sebanyak 5.000 lembar, nilai pari @10.000 untuk membeli tanah yang mempunyai harga pasar wajar saham @8.000. maka perhitungan dapat dilakukan sebagai berikut:
Nilai nominal saham (5000 x Rp. 10.000,-) = Rp. 50.000.000,-
Harga pasar wajar (5000 x Rp. 8.000,-) =( ” 40.000.000,-)
Selisih lebih nilai nominal diatas harga
Pasar wajar (Disagio) Rp.10.000.000,00

Jurnal untuk mencatat transaksi diatas adalah

Tanah 40.000.000
Disago saham 10.000.000
   Saham biasa   50.000.000

 

7. Pertukaran Asset Tetap Yang Serupa

Pertukaran asset tetap harus didasarkan pada nilai wajar dari asset yang diserahkan atau nilai wajar dari asset yang diterima dengan memperhitungkan keuntungan dan kerugian yang diakui.

Ada tiga situasi yang berkaitan dengan pertukaran asset yang sejenis, seperti:

  1. Akuntansi pertukaran asset yang sejenis dengan tombokan

Pertukaran ini dicatat keuntungan dan kerugian yang diakui pada nilai wajar asset yang diserahkan. Nilai wajar dari harta yang diterima harus digunakan hanya jika lebih jelas daripada nilai wajar harta yang diserahkan.

Contoh Kasus
PT Mega menukarkan beberapa truk dengan nilai buku Rp. 420.000.000. pada saat ini truk tersebut mempunyai harga pokok Rp. 640.000.000 dan akumulasi penyusutan sebesar Rp. 220.000.000. harga pasar wajar truk tersebut Rp. 490.000.000. untuk pertukaran ini, PT. Mega megneluarkan uang kas sebagai tombok sebesar Rp. 170.000.000. harga pasar wajar truk baru sebesar Rp. 660.000.000.:

Perhitungan yang  dapat dilakukan adalah:

Perhitungan harga tanah

Nilai wajar truk-truk yang ditukar Rp. 490.000.000,-
Kas yang dibayarkan Rp. 170.000.000,-
Harga pasar wajar truk Rp. 660.000.000,-

Perhitungan keuntungan

Harga pasar wajar dari truk Rp. 490.000.000,-
Nilai buku dari truk (Rp. 420.000.000,-)
Keuntungan dari pelepasan truk Rp. 70.000.000,-

Jurnal untuk transaksi ini adalah:

Truk baru 660.000.000
Akm peny. truk 220.000.000
     Truk 640.000.000
     Keuntungan pelep. truk 70.000.000
     Kas 170.000.000

a. Akuntansi pertukaran untuk asset yang serupa (situasi kerugian)

Harus segera di akui bila pertukaran asset menimbulkan kerugian/

Contoh Kasus
PT. Esa mendapatkan mesin baru seharga Rp. 160.000.000,- dengan cara menukar mesin lama yang dimiilki PT. Jaka Purnama. Mesin lama terhitung mempunyai nilai buku Rp. 80.000.000 dengan harga pokok Rp. 120.000.000, akumulasi penyusutan sebesar Rp. 40.000.000. harga pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000 dan tombokan penukaran disetujui sebesar Rp. 90.000.000.:

Perhitungannya adalah

Harga pokok mesin baru

Harga katalog mesin baru Rp. 160.000.000
Tombokan untuk mesin lama (Rp. 90.000.000)
Kas yang harus dibayarkan  Rp. 70.000.000
Harga pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000
Harga pokok mesin baru Rp.130,000.000

Perhitungan kerugian pelepasan mesin lama

Perhitungan kerugian

Harga pasar wajar dari mesin Rp. 60.000.000,-
Nilai buku dari mesin lama Rp. 80.000.000
Kerugian pelepasan mesin Rp. 20.000.000

Jurnal yang dibuat adalah :

Mesin Baru 130.000.000
Ak. Peny. Mesin 40.000.000
Kerugian Pelep. Mesin 20.000.000
      Peralatan 120.000.000
        Kas 70.000.000

b. Akuntansi pertukaran untuk asset yang serupa (situasi keuntungan tetapi taka da kas yang diterima)

Pertukaran asset yang menimbulkan keuntungan biasanya lebih rumit, karena jika pertukaran ini belum menyelesaikan proses pencarian laba maka setiap keuntungan harus ditangguhkan.

Contoh Kasus
PT. Abadi menukar mobil lama dengan nilai buku Rp. 135.000.000 dari harga pokok sebesar Rp. 150.000.000. akumulasi penyusutan Rp. 15.000.000 dan harga pasar wajar mobil lama sebesar Rp. 160.000.000 dan harus membayar uang kas sebesar Rp. 10.000.000 yang ditukar dengan mobil baru dengan harga pasar wajar Rp. 170.000.000.:

Perhitungannya sebagai berkut:

Perhitungan keuntungan

Harga pasar wajar mobil lama Rp. 160.000.000
Nilai buku mobil lama (Rp. 135.000.000)
Total keuntungan yang tidak diakui Rp. 25.000.000

Perhitungan lain dapat dilakukan

Nilai buku mobil baru PT. Abadi

Harga pasar wajar mobil baru Rp. 170.000.000
Keuntungan yang ditangguhkan (Rp. 25.000.000)
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000

Atau dapat dilakukan dengan cara berikut:

Nilai buku dari mobil lama Rp. 135.000.000
Kas yang dibayarkan Rp. 10.000.000
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000

Jurnalnya adalah

Mobil Baru 45.000.000
Ak. Peny. Mobil Lama 15.000.000
      Mobil Lama 150.000.000
      Kas 10.000.000

 

c. Pertukaran asset tetap yang tidak serupa

Pertukaran asset ini dihitung dari harga pasar wajar asset yang dipertukarkan mana yang lebih jelas.

Contoh Kasus
PT. Cendikia melakukan transaksi pertukaran tanah seluas 1.000 meter persegi dengan mobil seharga Rp 200.000.000. pertukaran ini mengakibatkan PT. Cendekia menerima kas sebanyak Rp. 20.000.000.:

Jurnal yang dibuat adalah

Mobil 200.000.000
Kas 20.000.000
    Tanah 220.000.000

 

8. Akuisisi Dan Disposisi Dari Donasi Atau Hadiah

Pertukaran asset yang berasal dari donasi disebut juga transfer tanpa timbal balik (karena transfer satu arah). Perlakuan ini dihitung dari nilai buku asset yang akan dicatat dalam buku.

Contoh Kasus
PT. Kartika menerima sebidang tanah dari donasi, harga pasar wajar dari tanah seharga Rp. 150.000.000 kemudian digunakan untuk pembangunan fasilitas umum.:

Jurnalnya adalah;

Tanah 150.000.000
   Modal Donasi 150.000.000
Contoh Kasus
PT. Wijaya menghibahkan tanah seharga Rp. 80.000.000, namun tanah tersebut mempunyai harga pasar wajar Rp. 110.000.000.:

Jurnal transaksi tersebut adalah:

Harta Donasi 110.000.000
     Tanah 80.000.000
     Keuntungan 30.000.000

Demikianlah pembahasan Harga Perolehan Aktiva Tetap atau Aset Tetap Lengkap. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Jangan lupa share artikel ini untuk menebar manfaat. Sekian dan Terimakasiih.

Kunjungi Juga Artikel Lainnya:

  1. Contoh Jurnal Khusus Perusahaan Dagang
  2. Contoh Persamaan Dasar Akuntansi Perusahaan (13 Transaksi)
  3. Contoh Jurnal Penerimaan Kas Perusahaan Dagang
  4. 13 Produk Produk Bank Syariah (Penjelasan Lengkap)
  5. Pengertian, Prinsip Dan Landasan Hukum Bank Syariah Sesuai UU 10/98
Gravatar Image
Accounting Blogger, Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung.