9 Teori Perdagangan Internasional : Klasik dan Modern

Posted on
9 Teori Perdagangan Internasional : Klasik dan Modern
5 (100%) 6 votes

Teori Perdagangan Internasional
Klasik dan Modern

Teori perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama.

Tahukah kamu?
Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar individu, antar korporasi, bahkan antar negara. Transaksi yang dilakukan melalui perdagangan internasional akan berdampak positif terhadap perekonomian suatu negara, yakni mendorong industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi dan kehadiran perusahaan multinasional.

Baca:

  1. Komponen Neraca Pembayaran Internasional 
  2. 10 Alat dan Cara Pembayaran Internasional (Tunai, Open Account)
  3. Pengertian Dumping Dalam Perdagangan Internasional

Terjadinya perdagangan internasional ini merupakan sifat naluriyah manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Perdagangan internasional selalu mengalami perkembangan serta kompleks dalam mengikuti kemajuan zaman dan peradaman manusia.

Dengan perdagangan internasional akan dapat membuka tingkat persaingan global yang lebih luas. Oleh karena itu, kondisi ini yang kemudian memunculkan teori-teori penyebab terjadinya perdagangan internasional. Saat ini, Kami akan menjelaskan Teori Klasik dan Teori Modern dalam perdagangan internasional.

Teori Klasik

Dalam teori klasik terkait perdagangan internasional, Kami akan menjelaskan 3 (tiga) teori yang fenomenal dalam kalangan para ekonom:

1. Teori Keunggulan Absolut/Absolute Advantage (Adam Smith)

Teori Keunggulan Absolut (Absolute Advantage) menjadi teori perdagangan internasional yang paling dikenal. Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith yang memfokuskan keunggulan mutlak.

Teori ini menyatakan bahwa keunggulan mutak merupakan keunggulan yang didapatkan oleh sebuah negara karena berhasil membuat biaya produksi barang dengan harga yang lebih murah dari pada negara lain. Menurut teori ini jika harga barang dengan jenis yang sama tidak memiliki perbedaan di berbagai negara, maka tidak ada alasan untuk melakukan dan melangsungkan perdagangan internasional.

Contoh Teori Keunggulan Absolut

Indonesia memiliki keunggulan dalam memproduksi “kain” yang lebih murah dari pada negara China. Sedangkan China memiliki keunggulan dalam memproduksi “Televisi” dengan biaya yang lebih murah dibandingkan Indonesia.

Artinya kedua negara tersebut memiliki keunggulan mutlak terhadap komoditas berbeda. Hal inilah yang dapat memicu perdagangan internasional antar negara melalui dua komoditas tersebut. Indoensia dapat menjual “kain” kepada China, dan sebaliknya China dapat menjual produk “Televisi” kepada Indonesia.

2. Teori Keunggulan Komparatif/Comparative Advantage (David Ricardo)

Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage) dikemukakan oleh David Ricardo yang memfokuskan keunggulan komparatif. Konsep pada teori ini mungkin dapat dikatakan konsep yang paling penting sampai saat ini dalam perdagangan internasional.

Teori ini menyatakan bahwa meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi barang tertentu, namun perdagangan internasional yang saling menguntungkan masih dapat terjadi. Hal ini dengan syarat bahwa negara tersebut melakukan spesialisai produk terhadap barang yang memiliki biaya relatif lebih kecil dari negara lain.

Dasar konsep pada teori yang dikemukakan David Ricardo ini tidak begitu berbeda dengan teori Adam Smith dalam munculnya perdagangan internasional. Perbedaannya hanya terletak pada pengukuran terhadap keunggulan suatu negara, yaitu perbedaan komparatif dalam biaya dan bukan pada perbedaan absolunya.

Contoh Teori Keunggulan Absolut

Dalam produksi gula dan kain sutra, Indonesia hanya membutuhkan 3 hari untuk memproduksi 1 kg gula dan 4 hari untuk memproduksi 1 meter kain sutra. Namun, Amerika membutuhkan 6 hari dalam produksi 1 kg gula dan 5 hari dalam produksi kain sutra. Jika dihitung, maka besarnya comparative cost adalah 3/6 untuk gula lebih kecil dibadingkan 4/6 untuk kain sutra. Kondisi ini tentunya Amerika akan berspesialisasi dalam produksi “gula” dibandingkan produksi “kain sutra”.

3. Teori Permintaan Timbal Balik/Reciprocal Demand (John Stuart Mill)

Teori Permintaan Timbal Balik (Reciprocal Demand) dikemukakan oleh John Stuart Mill dimana sebuah pengembangan dan kelanjutan dari teori David Ricardo. Teori ini mencari titik keseimbangan antara pertukaran barang antar dua negara dengan menentukan Dasar Tukar Dalam Negeri.

Teori ini mengedapankan keseimbangan permintaan dan penawaran, karena permintaan dan penawaran merupakan faktor penentu untuk berapa banyak jumlah barang yang diimpor dan diekspor.

Teori ini menyimpulkan bahwa perdagangan internasional dapat bermanfaat bagi kedua negara jika terdapat perbedaan antar negara dalam rasio produksi dan konsumsi. Selain itu, jika jumlah yang dibutuhkan untuk memproduksi barang ekspor lebih kecil dibandingkan produksi barang impor, maka secara otomatis negara mendapatkan manfaat dalam perdagangan internasional yang dilakukan.

Teori Modern

Setelah kita mengetahui teori-teori klasik dalam perdagangan internasional, selanjutnya menuju teori modern terkait perdagangan internasional. Dalam teori modern terkait perdagangan internasional, Kami akan menjelaskan 5 (lima) teori yang fenomenal dalam kalangan para ekonom:

1. Teori Heckser-Ohlin/H-O (Eli Heckser & Beril Ohlin)

Teori Heckser-Ohlin (H-O) muncul untuk menjelaskan mengenai perdagangan internasional yang belum sempat dijelaskan oleh David Ricardo. Teori ini dikemukakan oleh Eli Heckscher dan muridnya Bertil Ohlin yang dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian.

Teori ini dikenal dengan “The Proportional Factor Theory” yang berpendapat bahwa pola perdagangan internasional ditentukan oleh faktor pendukung, dimana negara dengan faktor produksi relatif tinggi dan murah dalam biaya produksi akan melakukan spesialisasi produk untuk melakukan ekspor. Sebaliknya, negara dengan faktor produksi relatif langka dan mahal dalam biaya produksi akan melakukan impor.

2. Kesamaan Harga Faktor Produksi (Stolper-Samuelson)

Kesamaan Harga Faktor Produksi dikemukakan oleh Stolper-Samuelson dalam teori perdagangan internasional. Teori ini mendeskripsikan hubungan harga relatif barang dengan perolehan faktor relatif, seperti gaji dan pendapatan modal.

Arti penting dari teori ini didasarkan pada fakta bahwa kesamaan pembelian faktor rill antar kedua negara adalah penting. Kondisi pareto optimal untuk alokasi yang efisien dari sumberdaya dunia. Bahwa sumberdaya alokasi yang efisien pada kondisi ekonomi tertutup membutuhkan unit yang sama dari faktor homogen yang sama untuk memperoleh hasil yang sama. Efisiensi alokasi sumberdaya dalam ekonomi dunia memerlukan kesamaan harga faktor yang lengkap.

Pada kenyataannya harga faktor tidak sama antar bangsa. Upah untuk membuat sepatu, membuat pakaian, pemotong rumput tidak sama di Indonesia dengan Amerika. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan skill (Human Capital).

Teori ini menekankan bahwa perdagangan bebas saling menggantikan (sekalipun tidak sempurna) untuk perpindahan faktor antar negara, dan menjelaskan dampaknya terhadap harga faktor produksi. Inti dari teori ini adalah perdagangan bebas (perdagangan internasional) mengakibatkan harga faktor-faktor produksi sama diberbagai negara.

3. Teori Ribczynski

Teori Ribczynski merupakan fungsi dasar dari model H-O. Ketika koefisien produksi tetap dan penawaran faktor-faktor produksi dalam kondisi full employment maka penambahan pada salah satu faktor produksi akan meningkatkan faktor output pada komoditi yang faktor produksinya ditambah secara intensif sehingga mengurangi output komoditi yang lain.

Contoh Teori Ribczynski

Contoh; Jika kebutuhan tenaga kerja, modal untuk produksi A dan B tetap maka dengan adanya penambahan penawaran tenaga kerja akan meningkatkan output A (padat karya) dan menurunkan output B.

4. Kurva Tawar Menawar/Offer Curve (Marshall & Edgeworth)

Konsep kurva tawar menawar (offer curve) pertama kali dirumuskan dan diperkenalkan dalam ekonomi internasional oleh Marshall dan Edgeworth, yang merupakan ekonom terkemuka dari Inggris yang aktif dalam akademisi pada abad ini.

Pada dasarnya kurva tawar menawar (offer curve) suatu negara memperlihatkan seberapa banyak suatu negara bersedia menyediakan komoditi ekspornya untuk memperoleh komoditi impor dalam jumlah tertentu. Dengan kata lain, bahwa kurva tawar menawar (offer curve) dari suatu negara memperlihatkan sejauh mana ketersediaan negara itu mengimpor dan mengekspor pada berbagai tingkat harga relatif yang tengah berlaku.

5. Teori Biaya Oportunitas

Teori Biaya Oportunitas juga penting untuk melihat seberapa jauh kita dapat berharap untuk mencapai efisiensi dunia (jika menghambat perpindahan faktor) melalui perdagangan bagi negara bebas, bantuan teknis dan aliran modal melalui bantuan luar negeri. (Baca: Hambatan dalam perdagangan internasional )

Teori ini dikemukakan oleh Salvatore yang mengungkapkan bahwa biaya sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumberdaya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditi pertama.

Dalam teori ini tidak diasumsikan bahwa biaya atau harga sebuah komoditi satu-satunya tergantung pada atau dapat dinilai dari jumlah tenaga kerjanya. Konsekuensinya, negara yang memiliki biaya oportunitas lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi akan memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi tersebut (dan memiliki kerugian komparatif dalam komoditi keduanya).

Demikian penjelasan sebuah wawasan tentang teori klasik dan modern dalam perdagangan internasional. Patut kita perhatikan bahwa perdagangan internasional dapat memberi manfaat yang besar untuk memenuhi kebutuhan setiap negara di dunia. Semoga arikel ini dapat memberikan, menambah dan meningkatkan wawasan anda dalam dunia ekonomi.

By: Mohamad Zahrudin Sahri

Artikel menarik lainnya

  1. 3 Karakteristik Administrasi Perkantoran Dan Contohnya
  2. Unsur Unsur Administrasi Perkantoran [Contoh dan Penjelasan] Menurut Ahli 
  3. Pengertian, Segmentasi Pasar [Strategi dan Contoh] 
  4. Pengertian Stakeholder [Teori Analisis dan Contoh]
  5. Pengertian, Contoh, Fungsi Lembaga Ekonomi dan Tujuannya
Gravatar Image
Accounting Blogger, lulusan Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung.